Kamis, 26 Maret 2009

Masih Terus Mendera Indonesia

La Nina dan El Nino Masih Terus Mendera Indonesia

ANOMALI cuaca global La Nina yang menyebabkan hujan di atas
normal, telah menimbulkan bencana di berbagai wilayah di seputar
cekung Pasifik, tidak terkecuali Indonesia. Cengkeraman La Nina
pada Bumi ini yang bertahan sejak tahun 1999 hingga tahun 2000,
terlihat sama kuatnya dengan El Nino tahun 1997/1998 yang telah
dinyatakan sebagai terparah pada abad ini.

Ketika itu ada 15 negara yang terkena dampak El Nino, berupa
kekeringan yang berkepanjangan. Akibat dari ketiadaan air selama
berbulan-bulan itu, kerugian total yang diderita penduduknya
mencapai 13 milyar dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 123
trilyun dalam kurs saat ini. Bukan itu saja, El Nino tahun 1997/1998
juga menewaskan sekitar 2.000 orang.

Di Indonesia sendiri kerugian akibat kebakaran hutan yang terjadi
pada tahun itu terhitung hampir Rp 9 trilyun. Selain itu, ada hal lain
yang ditimbulkan El Nino, yakni penduduk yang tewas mencapai 530
orang.

Lalu bagaimana dengan dampak La Nina yang bertahan sejak tahun
lalu? Pengaruh La Nina yang muncul pada musim kemarau
sepatutnya memberi dampak menguntungkan bagi petani, yang
tahun sebelumnya mengalami paceklik akibat kemarau panjang.
Karena dengan seringnya terjadi hujan pada musim kemarau, masa
tanam atau panen mereka lebih banyak. Meski diakui bahwa kondisi
sebaliknya akan dialami petani garam dan tembakau, yang
mengharapkan cukup panas pada musim kemarau. Namun, secara
umum, dengan banyaknya curah hujan, hal itu semestinya lebih
banyak memberi keuntungan.

Namun, pada musim hujan saat ini La Nina lebih banyak
menimbulkan kerugian. Bencana banjir dan tanah longsor terjadi di
mana-mana. Korban harta benda mencapai milyaran rupiah dan telah
terhitung ratusan nyawa melayang tertimbun tanah longsor.

Itu baru dampak awal, karena La Nina masih akan mengancam
sepanjang musim hujan periode ini yang berlangsung hingga April
tahun 2001.

Kondisi hangat

Yoshifumi Kuroda, peneliti dari Departemen Riset dan Observasi Laut
Japan Marine Science and Technology Center (Jamstec), dalam
presentasinya di kapal Mirai medio November lalu mengungkapkan,
dari Desember hingga awal Juni tahun 2001 diprakirakan suhu muka
laut di barat Pasifik dalam kondisi yang hangat. Namun, tidak dalam
tingkat yang signifikan.

Itu artinya, di kawasan itu masih akan banyak hujan namun dalam
tingkat yang normal sampai pertengahan tahun depan. Prakiraan
yang sama juga dikeluarkan oleh National Oceanic and Atmospheric
Administration (NOAA), Script Institute of Oseanography (SIO), dan
Badan Meteorologi Australia. Menurut SIO, dari Desember hingga
awal Juni kondisi cuaca akan normal.

Namun, setelah itu, papar Kuroda, antara Juni hingga Agustus mulai
muncul kolam panas di barat Pasifik, kemudian meluas ke arah barat
antara September hingga November 2001. Gejala ini menandakan
terjadinya fenomena El Nino.

Sementara itu, prakiraan dari European Center for Midrange Data
Forcast di Inggris, ucap Kuroda lagi, dari Januari hingga Maret di
sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi banyak hujan dengan
curah hujan di atas 50 mm.

Sementara itu, Japan Meteorological Agency meramalkan, kondisi
cuaca tahun depan akan normal. Namun, berdasarkan data
pengamatan yang diperoleh, Kuroda memperkirakan akan terjadi
akumulasi menghangatnya suhu muka laut di Pasifik mulai Maret
atau April, dan akan meluas ke seluruh kawasan ekuator Pasifik.
Karena itu Kuroda menyarankan untuk bersiap-siap menghadapi
datangnya El Nino.

Dampak positif

Sementara itu, Kepala Ekspedisi Mirai, Dr Keisuke Mizuno,
mengatakan, terjadi penyimpangan cuaca dapat memberi dampak
yang positif bagi sektor perikanan. Karena pada masa itu terjadi
migrasi ikan tuna ke wilayah Indonesia.

Saat La Nina suhu muka laut di barat Samudera Pasifik hingga
Indonesia menghangat. Kondisi ini mendorong ikan tuna dari Pasifik
timur yang dingin bergerak masuk ke kawasan timur Indonesia.
Seperti dikemukakan Dwi Susanto, pakar cuaca BPPT, belum lama
ini, perairan barat Pasifik selama ini diketahui merupakan kawasan
yang memiliki kelimpahan ikan tuna tertinggi, mencapai 70 persen
stok ikan tuna dunia.

Sebaliknya, ketika terjadi El Nino, ikan tuna di Pasifik bergerak ke
timur. Namun, ikan yang berada di Samudera Hindia bergerak masuk
ke selatan Indonesia. Hal itu karena perairan di timur samudera ini
mendingin, sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan
Jawa menghangat.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates